OUR NETWORK

Bradley Dack dan Dilema Premier League

Bradley Dack, nama gelandang kelahiran 31 Desember 1995 ini sudah sering muncul tiap kali jendela transfer dibuka. Setidaknya mulai dari musim panas 2016 ketika ia mengakhiri musim sebagai pemain terbaik divisi tiga Inggris, League One.

Dack mencetak 13 gol dan arsiteki 10 lainnya sepanjang 2015/2016. Mengubah Gillingham yang awalnya disebut sebagai salah satu kesebelasan yang terancam turun divisi, menjadi pesaing tiket promosi.

The Gills gagal meraih tempat di enam besar meskipun beberapa kali mengakhiri pekan pertandingan sebagai pemuncak klasemen. Pada akhirnya, mereka duduk di peringkat sembilan League One 2015/2016. Terpaut lima poin dari Barnsley, pemilik tiket playoff terakhir yang promosi setelah mengalahkan Millwall di final playoffs.

Dack terlibat dalam 23 dari 74 gol the Gills sepanjang musim. Itu sama saja dengan 31% dari total raihan klub. Meski jauh dari raihan topskorer League One, Will Grigg (25) dan tak sekalipun mendapatkan penghargaan pemain terbaik bulanan sepanjang musim, Dack jadi incaran berbagai klub.

Crystal Palace yang resmi mengangkat status mereka sebagai penghuni tetap Premier League dan baru menembus final Piala FA 2016 disebut jadi pelari terdepan untuk jasa Dack. Mengungguli Brighton & Hove Albion dan Celtic.

Nakhoda Gillingham saat itu, Justin Edinburgh, mengaku ingin melihat Dack bertahan di  Priestfield Stadium. Tapi ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa Dack akan pergi dari tim asuhannya. “Saya berharap dia tetap di sini satu atau dua musim lagi. Namun, kami gagal memenuhi target [promosi]. Ketika hal seperti itu terjadi, mungkin saja satu atau dua pemain memilih untuk pergi,” kata Edinburgh.

Dipantau Pochettino

Foto: the72

Dack bertahan di Gillingham untuk satu musim lagi, pencapaiannya menurun. Namun, tetap saja ada kesebelasan yang mengincar jasanya. Ia pun bergabung dengan Blackburn Rovers. Tetap main di League One, tapi setidaknya pamor Dack tinggi bersama pemilik gelar Premier League tersebut.

Keputusan Dack memilih Blackburn juga tidak salah. Ia membantu the Rovers promosi ke Championship dengan 18 gol dan sembilan assist. Naik ke divisi dua, jasa Dack kembali diminati para penghuni Premier League. Bukan sembarang klub juga. Peminatnya adalah Tottenham Hotspur arahan Mauricio Pochettino.

Sayangnya, Dack merasa dirinya belum siap meninggalkan Ewood Park. “Saya senang berada di sini [Blackburn]. Setelah berbicara dengan manajer dan teman-teman satu tim, mereka ingin saya bertahan. Apa yang kami perbuat di sini juga positif. Seperti siap untuk promosi,” kata Dack.

Dack kembali memperlihatkan performa apik selama 2018/2019. Tidak tergantikan di lini tengah the Rovers dan terlibat dalam 22 gol sepanjang musim. Ia bahkan masuk ke dalam 50 pemain terbaik Football League (divisi dua-empat Inggris) versi the 72.

Sayangnya, Blackburn lagi-lagi gagal kembali ke Premier League. Sementara Dack terus mendapat sorotan dan tawaran. West Ham United, Crystal Palace, dan Aston Villa ingin memboyongnya ke Premier League.

Tergantung Jack Grealish

Foto: New Statesman

Ini adalah sebuah dilemma buat Dack. Blackburn tentu tidak ingin melepas dia. “Dack adalah kunci bagi kami. Dia pemain yang brilian. Meskipun dirinya tidak menempati pos penyerang, ia bisa punya naluri untuk mencetak gol dan tak mau kalah. Ia selalu bekerja untuk tim dan sangat berbahaya di sepertiga akhir lapangan,” kata Manajer Blackburn Tony Mowbray.

Namun, jika ia terlalu lama bertahan di Championship, nasibnya bisa berakhir seperti Ross McCormack. Dengan usia yang sudah tak muda lagi, Dack harus lompat ke Premier League sebelum terlambat. Berbagai media juga mengatakan bahwa Dack siap melakukan hal itu.

Masalahnya, dari tiga kesebelasan yang disebut meminati jasa Dack, tak ada satupun yang dapat memastikan tempat utama bagi dirinya. West Ham baru mengeluarkan dana 25 juta pauns untuk memboyong Pablo Fornais dari Villarreal.

Kurang masuk akal jika mereka tidak memberikan salah satu pembelian termahal klub tempat utama. Artinya, jika Dack bergabung dengan the Hammers, ia hanya akan jadi pemain cadangan. Pelapis untuk Fornais yang juga beroperasi di belakang penyerang tunggal.

Crystal Palace terlihat pilihan masuk akal. Mengingat the Eagles sudah mengincar jasa Dack sejak masih berseragam Gillingham. Namun, mereka bermain dengan skema 4-3-3. Tidak membutuhkan gelandang serang di belakang ujung tombak. Padahal itu adalah posisi terbaik Dack.

Satu-satunya opsi paling masuk akal adalah Aston Villa. Namun, Dack harus menunggu mereka menjual Jack Grealish terlebih dulu sebelum menerima pinangan the Villans. Jika tidak, nasib Dack di Villa Park akan sama saja seperti di West Ham.

Bergerak Seperti 2017

Foto: Football Transfer Tavern

Bradley Dack jelas pemain yang punya potensi dan layak tampil di Premier League. Dirinya konsisten menjadi momok berbahaya untuk pertahanan lawan, apapun kesebelasan yang ia bela.

Akan tetapi, Dack harus dewasa dan tak terburu-buru mengambil keputusan. Apabila opsi yang ia miliki hanyalah tiga kesebelasan di atas, mungkin lebih baik menahan ambisi ke Premier League.

Mungkin pindah ke West Bromwich Albion (WBA) akan lebih realistis. WBA memang bermain di Championship, sama seperti Blackburn. Risiko untuk memiliki nasib sama dengan McCormack memang semakin besar apabila ia melakukan hal ini. Risiko itu akan selalu ada.

Akan tetapi, bukankah langkah seperti itu juga yang membuat dirinya masuk ke dalam radar Tottenham? Meninggalkan Gillingham untuk Blackburn yang sama-sama ada di League One.