Menakar Kualitas Virgil van Dijk Sebagai Bek Termahal di Dunia

Saga transfer pemain belakang Southampton, Virgil Van Dijk, berakhir. Liverpool resmi memboyong pemain asal Belanda ini ke Anfield, dengan harga yang cukup fantastis, 75 juta Paun.

Angka ini terbilang tidak masuk akal bagi beberapa pihak. Namun, melihat geliat bursa transfer beberapa tahun terakhir, angka 75 juta Paun bukanlah angka yang mengejutkan, bagi sebuah klub untuk membeli pemain. Namun apakah Van Dijk layak dihargai semahal itu? Apakah kualitas dari pemain 193 cm itu setimpal dengan angka yang dikeluarkan The Reds?

Karier bek 26 tahun ini memang menanjak. Virgil van Dijk awalnya mengawali karier bersama Williem II dan bertahan semusim. Setelahnya, ia dilepas ke Groningen, di mana Van Dijk mencatatkan 62 penampilan dalam tiga musim dan mencetak tujuh gol. Gol debutnya adalah kemenangan sensasional atas Feyenoord 6-0.

Bakatnya dilirik penguasa Skotlandia, Glasgow Celtic, yang memboyong Van Dijk dengan mahar 2,6 juta Paun pada musim 2013/2014. Di Celtic, perannya tak tergantikan. Pada musim 2013/2014, Van Dijk berperan besar dalam membuat rekor 1.256 menit tidak kemasukan gol yang menjadi symbol kokohnya pertahanan Celtic. Sayangnya, performa bagusnya belum mampu membawa Celtic berbicara banyak di Kompetisi Eropa.

Baca juga: Mengenang Jock Stein, Sosok Kesuksesan Celtic di Eropa

Baca lainnya: Mengapa Liga Skotlandia tidak berkembang?

Meskipun begitu beberapa tim mulai meliriknya, termasuk Sevilla dan Crystal Palace, tapi transfer urung terjadi. Hingga pada awal musim 2015/2016, Southampton memboyong Van Dijk, untuk mengisi kekosongan lini belakang setelah Toby Alderweireld memutuskan untuk tidak mempermanenkan pinjamannya dari Atletico Madrid, dan memilih hengkang ke Tottenham Hotspur.

Bersama Jose Fonte atau Maya Yoshida, Van Dijk menjadi tembok yang cukup kokoh bagi The Saints, dan sukses membawa Southampton berkancah di Europa League pada musim 2016/2017. Bakatnya diendus kontestan Premier League lain. Namun, Liverpool-lah yang menaruh minat yang cukup serius.

Liverpool sempat melakukan pendekatan kepada Van Dijk, meski kemudian dianggap ilegal. Van Dijk sendiri sudah mengungkapkan hasratnya untuk merumput bersama Liverpool dan meminta untuk pindah pada bursa transfer musim dingin 2016/2017.

Pada awal musim sebenarnya Van Dijk juga dikaitkan untuk pindah ke Liverpool. Namun, manajemen kembali menahan Van Dijk dengan dalih tenaganya masih dibutuhkan The Saints. Semua berubah ketika Mauricio Pellegrino, manajer Southampton, mengizinkan Van Dijk dilego ke klub lain dengan harga yang pantas. Liverpool pun betindak cepat dan mengamankan tanda tangan pemain berdarah Suriname ini.

Banyak yang meyakini bahwa Van Dijk akan memberikan perubahan signifikan di lini pertahanan Liverpool, yang dikenal menjadi titik lemah Liverpool saat ini. Diharapkan datangnya Van Dijk mampu mengisi kekurangan Liverpool saat ini, menilik permainan para pemain belakang Liverpool yang seperti kehilangan arah: Dejan Lovren yang sering gagap di pertandingan-pertandingan besar, Joel Matip yang masih harus beradaptasi dengan kerasnya Premier League, dan Ragnar Klavan yang sudah mulai uzur.

Tanggapan positif datang dari sang manajer, Jurgen Klopp, “Dia akan disambut sangat baik disini, saya piker harga yang dikeluarkan cukup pantas.

Claude Puel, Manajer Leicester City juga meyakini hal yang sama, “Dia akan menjadi pemain belakang kelas dunia bersama Liverpool, dia pemain yang lengkap. Masalah harga yang dikeluarkan saya tidak paham soal itu, tapi dia pemain yang hebat, berkualitas dan talentanya tidak perlu diragukan. Kepribadian dan tekadnya menununjukkan hal tersebut.”

Neil McGuinness, pemandu bakat senior Celtic menggambarkan Van Dijk sebagai sosok yang tangguh dan dapat mengalirkan bola dengan cepat. “Saya rasa ada kecocokan antara taktik Klopp dengan Van Dijk. Klopp butuh sosok yang cepat dalam mengalirkan bola dan mampu membaca permainan. Saya rasa Van Dijk cocok untuk itu,” kata McGuinness dikutip dari Independent.

Di sisi lain, nada sumbang juga terdengar. Salah satunya dari Mark Lawrenson, legenda Liverpool di era 1980-an. Menurutnya, kehadiran Van Dijk akan membawa intrik di ruang ganti Liverpool.

“Ketika anda membeli pemain, Anda pasti meyakinkan diri anda bahwa ‘ya ini memang pemain bagus’. Namun, di skuat, mereka akan berfikir ‘siapa yang akan keluar dari tim’ itu akan membuat tekanan dalam skuat. Penjualan yang bagus bagi Southampton tapi saya berpikir ini bukan pembelian yang baik bagi kami,” ungkap Lawrenson.

Mourinho juga turut mengomentari harga Virgil van Dijk yang menjadikannya pemain bertahan termahal di dunia. “Saya tidak mengkritik Van Dijk. Harga pemain kini menggila. Anda mendapatkan pemain dengan mengeluarkan uang yang sangat amat banyak, dan jika tidak, Anda tidak akan mendapatkan pemain yang Anda inginkan. Liverpool melakukan yang harusnya dilakukan,” kata Mourinho.

Lalu apakah pantas Virgil van Dijk dihargai 75 juta Paun? Harga transfer pemain beberapa musim memang semakin meningkat. Menurut transfermarket.com, harga Van Dijk ada di kisaran 26,4 Juta Paun. Dibandingkan dengan ketiga bek tengah yang dimiliki Liverpool (Joel Matip, Dejan Lovren, Ragnar Klavan), Van Dijk lebih unggul dari segi statistik.

Dilansir dari Squwaka, musim lalu Van Dijk memeroleh persentase 67% menang dalam duel. Bandingkan dengan Matip yang hanya 59%, Lovren (56%), dan Klavan (49%). Dalam mengkomandoi lini pertahanan pun Van Dijk lebih unggul. Van Dijk setidaknya melakukan hingga 10 kali defensive action, bandingkan dengan Matip (7), Lovren (8) dan Klavan (6).

Namun riwayat cedera menghantui Van Dijk di Liverpool. Musim lalu, bersama Southampton, Van Dijk absen di tengah kompetisi karena cedera ligamen yang dialami. Kekurangan lain dari Van Dijk adalah dirinya bukanlah sosok bek tengah yang bisa membangun serangan. Padahal, Gegenpressing ala Klopp, membutuhkan pemain yang bisa melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang.

Musim lalu duet Lovren-Matip dituntut untuk cepat membangun serangan, seperti duet Hummels dan Subotic di Dortmund, tapi gagal. Matip cukup kesulitan dalam melakukan passing cepat, sedangkan Lovren kurang memiliki visi pemain yang akan diumpan.

Solusi musim lalu, Georginio Wijnaldum diposisikan sebagai bek tengah, atau gelandang bertahan, posisi yang membuatnya cukup kikuk di awal. Akurasi Van Dijk sendiri cukup tertinggal dibandingkan dengan bek tengah Liverpool yang lain, akurasi Van Dijk hanya 84%, sedangkan Matip 87%, Lovren 86% dan Klavan 89%.

Lantas, apakah predikat bek termahal di dunia sesuai dengan kualitas Virgil van Dijk?