OUR NETWORK

Bobby Duncan, Liverpool, dan Romantisme yang Dirusak Agen

Bobby Duncan berhasil mencatak dua gol untuk Fiorentina ketika La Viola menang besar 6-3 atas Bologna. Bukan di Serie-A, tapi pekan pertama Primavera 1. Langsung mencetak gol dalam debutnya, Duncan pun meluangkan waktu untuk mengucap rasa syukurnya di sosial media miliknya.

“Senang rasanya bisa mencetak gol pertama untuk klub ini. Apalagi dapat bertemu dengan Tuan [Rocco] Commiso (pemilik Fiorentina) setelah pertandingan. Saya tak sabar memberi segalanya untuk klub ini,” tulis Duncan.

Baru sekitar dua pekan bergabung dengan Fiorentina, Duncan sepertinya sudah melupakan Liverpool. Padahal saat masih membela akademi the Reds, dirinya merupakan pujaan. Tak hanya karena terlibat dalam banyak gol (33) dalam waktu singkat (39 pertandingan), tapi juga karena dirinya adalah sepupu dari legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Duncan disebut sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki akademi Liverpool. Dirinya dikomparasikan dengan Wayne Rooney dan Robbie Fowler meski belum pernah sekalipun tampil untuk tim senior di laga kompetitif.

Manajer Liverpool Jurgen Klopp sempat memberi kesempatan kepada Duncan di beberapa laga uji coba. Ia juga melihat potensi Duncan naik ke tim senior. “Pemain-pemain muda ini, terutama Duncan dan Paul Glatzel merupakan bagian dari masa depan klub. Tentu sangat menarik untuk melihat mereka bermain,” kata Klopp.

“Saat mereka siap, pintu ke tim senior selalu terbuka. Tapi mereka harus masuk dengan kemampuan sendiri. Tidak ada yang akan membukakan pintu,” lanjut Klopp. Diboyong the Reds dari Manchester City pada musim panas 2018, Duncan dipercaya akan menjadi besar di Anfield. Mengikuti jejak sepupunya yang telah tampil lebih dari 500 laga untuk the Reds.

Bahkan Duncan juga mengakui bahwa keputusannya untuk meninggalkan Manchester City tak lepas dari fakta bahwa Liverpool adalah kesebelasan impiannya. Kesebelasan yang dia gemari sejak masih anak-anak. “Membela Manchester City selama enam tahun merupakan hal yang luar biasa. Ini keputusan sulit bagi saya dan keluarga, tapi sudah saatnya untuk memenuhi mimpi dan memaksimalkan potensi di tempat lain,” tulis Duncan.

“Ini adalah mimpi yang sudah saya dampakan sejak lama. Membela Liverpool, kesebelasan yang telah saya puja dan dukung sepanjang hidup. Sangat senang bisa menandai hari ini dengan gol. Permainan yang fantastis dari tim!,” tambahnya setelah mencetak gol di laga uji coba melawan Tranmere Rovers jelang musim 2019/2020.

Romantisme Duncan dan Liverpool seperti baru dimulai. Sayangnya, hubungan mereka rusak ketika sedang hangat. The Reds akhirnya tak berdaya dan harus rela melepas salah satu talenta terbaiknya ke Fiorentina. Membela Liverpool selama satu tahun, Duncan ikut membantu sisi merah Mersyside menjuarai FA Youth Cup 2018/2019 sebelum dijual dengan harga 1,8 juta Pauns ke Italia.

Duncan seharusnya bisa menjadi pemain masa depan Liverpool. Semua sudah tertata rapi untuknya. Memiliki hubungan darah dengan seorang legenda. Diakui oleh manajer kelas dunia. Terlibat dalam banyak gol dan membantu akademi Liverpool mengangkat piala. Tapi kemudian, agennya, Saif Rubie, buka suara.

Kesehatan Mental Jadi Alasan Agen Duncan

View this post on Instagram

To be in the top 1% you have to be prepared to do what 99% of the rest won't do. In my line of work I know nobody even comes near. Not everything in life is black and white and you have to be able to adapt and roll with the punches. Now @bobbyduncan has the opportunity to live and experience something not many young English players have done. That's what leaders do. We are not followers. Thanks to all the people who have supported me in this difficult period means a lot. The joy of getting the job done makes all the struggle and doubt worthwhile. PS @princeboateng you better look after our little brother. #forza #viola #firenze #serieA #italy #football #fgsl #afcfiorentina #fiorentina

A post shared by Saif Rubie سيف الربيعي (@saifpr) on

“Duncan tidak terlibat dalam laga Liverpool U-23 karena ia sedang mengalami masalah mental. Dirinya depresi dengan segala tekanan yang didatangkan pihak klub. Bagaimana Liverpool mengatakan bahwa dirinya boleh pergi dan tak akan ada yang menghalangi dia. Bagaimana ia mungkin tidak akan kembali lagi ke Liverpool. Apalagi dengan kontrak yang hanya menyisakan satu tahun,” kata Rubie.

“Duncan tidak keluar dari kamarnya selama empat hari berturut-turut. Ia sedang tidak sehat secara mental. Namun para petinggi Liverpool tidak mempertimbangkan hal itu. Mereka berpikir untuk menahan Duncan hingga Januari 2020 atau bahkan lebih sebagai hukuman kepada dirinya,” lanjutnya.

Pihak klub tentu membantah hal ini. Jamie Carragher yang membela Liverpool sepanjang karier profesionalnya juga ikut angkat bicara soal klaim Rubie. “Saya telah mengenal Bobby [Duncan] sejak dia masih sangat muda. Saya juga mengenal keluarganya. Pada usia saat ini, bermain di pra-musim dan mungkin Piala Liga adalah hal terbaik baginya. Seharusnya, itulah saran yang Anda berikan kepada dirinya,” tulis Carragher membalas Rubie.

“Bobby harus meninggalkan orang ini [Rubie] sebelum dia dipecat oleh klub. Memang ada masalah dalam hal ini. Masalah itu adalah Anda [Rubie]. Anda melawan orang yang paling berpengaruh di klub ini selain Klopp. Anda gila. Liverpool tak akan pernah melakukan bisnis lagi dengan Anda,” lanjut Carragher.

Isu kesehatan mental bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Jika pergi ke Fiorentina membuat mental Duncan lebih sehat, itu adalah opsi terbaik. Duncan mengaku bahwa dirinya hanya ingin bermain. Klopp sebagai sosok yang memiliki kekuasaan untuk memilih pemain dalam timnya, juga ingin Duncan membela untuk Liverpool. Hanya saja, pandangan keduanya berbeda.

“Kami memberikan sebuah perspektif kepadanya. Bagaimana ia bisa bertahan di sini. Tapi, pesan yang ingin kami sampaikan tidak ditangkap. Ada perbedaan, terutama terkait jangka waktu berapa lama hal itu akan terjadi. Pada akhirnya kami tidak mengubah pandangannya dan harus menerima kenyataan,” kata Klopp.

Peluang di Liverpool Lebih Besar Dibanding Fiorentina

Namun, Fiorentina sebenarnya juga bukan pilihan bagus untuk Duncan. Sejak 2014/2015, La Viola telah mempromosikan 13 pemain dari akademi mereka. Tapi hanya tiga yang bisa bertahan di tim senior. Setidaknya hingga 2019/2020.

Pertama Federico Chiesa yang jadi andalan klub. Kemudian Tòfol Montiel, gelandang yang baru diorbitkan dan mengarsiteki dua gol di Coppa Italia kontra Monza. Terakhir, Bartlomiej Dragowski, yang akhirnya mendapatkan tempat utama setelah tiga tahun didaratkan dari Polandia.

Sisanya antara dipinjamkan, dilepas, atau dijual. Termasuk anak dari legenda Romania, ‎Gheorghe Hagi, Ianis. Ataupun Rafik Zekhnini yang datang dari Rosenberg BK dengan predikat ‘wonderkid’. Ia bahkan pernah membuat bek berpengalaman Jerman seperti Mats Hummels terkejut saat masih bermain di Norwegia. Tapi dirinya seperti tidak mendapatkan kesempatan di Kota Florence.

Mungkin, satu-satunya pemenang dari kesepakatan ini adalah Sang Agen, Saif Rubie. Seperti yang diketahui, dalam setiap kesepakatan agen akan mendapatkan persenan. Liverpool kehilangan talenta berkualitas dengan menjual Duncan ke Fiorentina. Duncan masih terperangkap di akademi meski sudah meninggalkan Liverpool. Semoga hal ini tidak terjadi, tapi masalah mental yang dialami Duncan bisa kembali di Italia.

Tidak ada yang menang selain Rubie.

Kasus ini seharusnya bisa menjadi sebuah pelajaran. Bukan hanya bagi pemain muda tapi juga untuk para pembuat kebijakan seperti FIFA. Pasalnya, tidak semua agen memikirkan hal terbaik untuk klien mereka. Seperti kata Carragher, jika Rubie mengutamakan Duncan, dirinya tidak akan mendorong pemain kelahiran 26 Juni 2001 itu untuk pindah. Sabar dan hasilnya akan datang.

Dibandingkan dengan Fiorentina, Liverpool lebih tahu bagaimana membentuk pemain muda. Jika bicara angka, Liverpool kalah jauh. Mereka hanya mengorbitkan sembilan pemain dalam lima tahun terakhir. Tapi, dari sembilan nama tersebut hanya satu yang pergi sebelum pernah tampil untuk tim senior: Rafa Paez.

Sisanya, pernah membela the Reds di Premier League, Liga Europa, bahkan Champions. Tidak semuanya berhasil memang, akan tetapi ketika mereka sukses efeknya benar-benar terasa. Lihat Harry Wilson yang dipinjamkan ke Bournemouth untuk musim 2019/2020. Ia sudah mencetak dua gol dari empat partai Premier League. Ryan Kent diizinkan kembali ke Rangers setelah musim 2018/2019 yang impresif. Trent Alexander-Arnold tidak tersentuh di lini belakang Liverpool.

Regulasi Agen Sepakbola dan Peluang Menjadi Profesional

Sayangnya, ulah Rubie membuat Duncan tidak bisa merasakan hal serupa. Padahal dirinya baru berusia 18 tahun. Menurut aturan FA dan FIFA, pemain usia 18 tahun memang sudah bisa diwakili oleh seorang agen. Tapi ada celah dari aturan tersebut.

Pemain yang lebih muda dari 18 tahun tidak bisa diwakili oleh agen kecuali bagian dari keluarga mereka. Namun, agen sudah bisa terlibat dalam kehidupan pemain muda meski belum berusia 18 tahun. Mereka tidak bisa mewakili ataupun mendapat keuntungan. Tapi bisa mempengaruhi. Contohnya adalah sensasi sepakbola, Xavi Simons.

Simons memiliki kedekatan dengan agen super, Mino Raiola. Tapi Raiola belum menjadi agen resmi Simons karena usianya masih 16 tahun. Meski demikian, Raiola berpengaruh besar dalam kepindahan Simons dari Barcelona ke Paris Saint-Germain (PSG).

“Apakah sebuah masalah saya perwakilannya atau bukan? Xavi [Simons] merupakan pemain muda hebat dengan masa depan yang besar. Saya merupakan teman baiknya. Bukan penasihat. Bukan agennya. Teman baik lebih bagus dibanding seorang penasihat,” kata Raiola.

Menurut Law In Sports, dari sekian banyak pemain yang masuk akademi sepakbola pada usia sembilan tahun, kurang dari 0,5% atau 1:200 akan berakhir di tim utama kesebelasan itu. Sementara hasil penelitian Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) menemukan bahwa dari pemain-pemain yang mendapat program beasiswa elit di kesebelasan profesional pada usia 16 tahun, sangat jarang berakhir menjadi pemain profesional ketika berumur 21. Dari enam pemain, lima di antara mereka gagal, menurut PFA.

Persentase yang rendah itu tidak lepas dari pengaruh agen. Jadi mungkin sudah saatnya mengubah regulasi batas umur minimal untuk diwakili seorang agen. Dibanding 18, 20/21 tahun nampaknya akan menjadi batas umur yang lebih pas.

Apabila Indonesia dapat mengubah batas umur minimal untuk menikah, badan regulasi sepakbola pasti tidak akan kesulitan melakukan hal yang sama soal ini. Dengan begitu, mungkin masa depan pemain-pemain muda akan lebih terjamin. Tidak memiliki nasib seperti Bobby Duncan.

Loading...