Lingkaran-Lingkaran Setan Sepakbola Indonesia

Foto: Ligalaga.id/Frasetya Vady Aditya.

Sepakbola Indonesia masih penuh dengan lingkaran setan yang harus diputus mata rantainya. Hal ini, harus kita akui, memang masih benar adanya.

Kejadian Haringga Sirla kembali menohok insan sepak bola Indonesia. Meninggalnya Haringga saat menyaksikan laga Persib-Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), pada Minggu (23/9/2018) silam, membukakan mata bahwa ternyata sepak bola Indonesia masih belum baik-baik saja. Sepakbola Indonesia masih harus berbenah.

Terlepas dari langkah reaktif yang dilakukan oleh PSSI, BOPI, Kemenpora, APPI, dan elemen sepakbola yang lain (apresiasi bagi mereka), setidaknya, kejadian Haringga ini membuat kita menyadari, bahwa masih ada lingkaran setan sepak bola Indonesia yang masih belum terputus. Salah satunya adalah menyoal kematian suporter di area stadion sepakbola.

Baca juga: Wacana Hukuman pada Persib: Sudahkah Sesuai Regulasi?

Lalu, apa saja lingkaran-lingkaran setan sepakbola Indonesia yang lain? Mari kita telisik.

Gaji Pemain yang Ditunggak

Salah satu lingkaran setan sepakbola Indonesia adalah gaji pemain yang ditunggak. Sudah jadi rahasia umum bahwa kesebelasan sepakbola Indonesia, terkecuali klub-klub besar yang mudah gaet sponsor macam Persib, Persija, atau Persebaya, adalah pihak-pihak yang kerap menunggak gaji pemain selama berbulan-bulan.

Pada kisaran 2017 silam lalu, salah seorang mantan pemain Persegres Gresik United, M. Irfan, pernah mengeluh soal gajinya yang ditunggak oleh Persegres selama tiga bulan. Hal ini langsung mendapat perhatian dari Asosiasi Pemain Profesional Indonesia, APPI, selaku badan yang menaungi aspirasi dari para pemain sepakbola profesional di Indonesia. APPI mengurus hal tersebut, dan kabarnya masalah gaji Persegres ini sudah beres, walau agak berlarut-larut.

Soal penunggakan gaji ini, mantan manajer Persegres, Mas Gugus, menyebut bahwa mereka sebenarnya tidak mau menunggak gaji. Namun, anggaran yang kurang–Persegres hanya mengandalkan dana segar dari operator liga–, serta sulitnya Persegres mencari sponsor membuat mereka kesulitan memenuhi kewajiban membayar gaji pemain.

Teraktual, dalam ajang Go-Jek Liga 1 2018, Sriwijaya FC ketahuan menunggak gaji para pemainnya sampai satu bulan lebih pada pertengahan 2018 silam. Sontak hal ini membuat Sriwijaya FC dilanda eksodus besar-besaran. Sekira 9 pemain, ditambah dengan sang pelatih, Rahmad Darmawan, hengkang dari skuat berjuluk ‘Laskar Wong Kito’ tersebut. Hal ini tentu menjadi aib tersendiri bagi tim yang pernah jadi juara Liga Indonesia XIII 2007 silam.

Jika manajemen klub tidak baik, bukan tidak mungkin kasus penunggakan gaji akan tetap terjadi ke depannya, dan lingkaran setan ini akan terus berputar.

Kasus Mogok Main dan Wasit yang Dianggap (Selalu) Tidak Adil

Dalam ajang Liga 1 2017, kasus mogok main sempat menjadi kasus yang cukup hangat. Setidaknya, beberapa laga Liga 1 2017 sempat dihiasi oleh aksi mogok main karena ketidakpuasan salah satu klub terhadap keputusan wasit.

Laga Arema vs Semen Padang, PSM vs Sriwijaya FC, Arema vs Madura United, serta Mitra Kukar vs Persib, adalah laga-laga yang sempat diwarnai oleh aksi mogok pemain. Rata-rata, sebab dari aksi mogok itu hampir sama: wasit menelurkan keputusan yang tidak memuaskan, para pemain lalu memutuskan untuk keluar dari lapangan pertandingan, pertandingan pun tertunda hingga beberapa menit.

Yang paling panas, tentu aksi mogok para pemain Persib saat laga melawan Persija di Stadion Manahan Solo dalam putaran kedua Liga 1 2017. Para pemain Persib yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan wasit Shaun Evans, memutuskan untuk mogok sejenak. Tak kalah kejam, Evans pun langsung menghentikan laga dan memutuskan Persija keluar sebagai pemenang, padahal laga masih tersisa tujuh menit. Aksi mogok menjadi warna penyelenggaraan Liga 1 2017 silam.

Namun, dalam ajang Liga 1 2018 ini, tidak terdengar lagi aksi-aksi mogok yang dilakukan oleh para pemain. Justru, yang menjadi sorotan dalam Liga 1 2018 (juga Liga 2), adalah soal kepemimpinan wasit. Dalam beberapa laga, wasit kerap menjadi sasaran kebrutalan pemain, suporter, bahkan ofisial tim.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian tersendiri, bagaimana caranya agar wasit kembali mendapat kepercayaan dari pemain, pelatih, dan ofisial tim. Ketika wasit sudah tidak mendapatkan kepercayaan, niscaya lingkaran setan di atas, yaitu mogok main dan aksi kebrutalan terhadap wasit, akan terus terjadi.

Federasi yang Belum Apik Merawat Sepakbola Indonesia

Di bawah kepemimpinan Edy Rahmayadi yang dilantik menjadi Ketua Umum PSSI pada November 2016 silam, harapan hadir. Dengan sifatnya yang tegas, Edy diharapkan dapat membereskan masalah-masalah sepak bola Indonesia yang sudah mencapai titik nadir.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Selain penyelenggaraan Liga 1 2017 yang masih jauh dari kata baik, Edy malah rangkap jabatan. Per 5 September 2018, Edy resmi dilantik sebagai Gubernur Sumatera Utara. Hal ini pun menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Edy karena dia harus mengurusi dua hal yang sama pentingnya: sepakbola Indonesia dan wilayah Sumatera Utara. Hal ini belum ditambah dengan jabatannya sebagai Dewan Pembina PSMS Medan.

Soal rangkap jabatan ini, yang juga dilakukan oleh Joko Driyono, membuat PSSI tidak terurus dengan baik. Imbasnya, meski beberapa program kecil berjalan, pembinaan pemain muda, serta program-program yang ditujukan untuk membuat Timnas Indonesia berprestasi di ajang internasional tidak berjalan lancar. Timnas Indonesia dari berbagai lintas usia, pada 2017 silam, jarang menorehkan prestasi apik. Hanya Timnas U-16 saja yang sukses menjadi juara Piala AFF U-16 kemarin.

Hal inilah yang membuat PSSI dirundung pertanyaan: bagaimana mau apik mengurusi sepakbola Indonesia jika di dalam PSSI sendiri masih banyak konflik kepentingan yang melanda?

***

Ternyata, selain kasus kematian suporter yang terus berulang, beberapa lingkaran setan lain masih acap terjadi di sepakbola Indonesia. Hal inilah yang membuat sepakbola Indonesia jalan di tempat, tidak seperti beberapa negara lain, atau bahkan negara tetangga, yang mulai setapak demi setapak melangkah ke arah yang lebih baik.

Maka, perlu kesadaran dari semua pihak untuk menghentikan lingkaran setan ini, jika memang sepakbola Indonesia ingin dibawa ke arah yang positif. Jangan sampai lingkaran setan ini, karena seringnya hal itu terjadi, tumbuh menjadi sebuah mitos, sebuah budaya. Jika sudah menjadi mitos dan budaya, berdasarkan teori semiotika, maka hal tersebut akan sulit untuk diubah.