OUR NETWORK

Aaron Mooy, Bukti Wolverhampton Sudah Naik Kelas

Jendela transfer musim panas 2019 belum resmi dibuka. Namun berbagai kesebelasan sudah disebut masuk ke dalam persaingan untuk memperebutkan beberapa pemain. Jika melihat dari sejarah, pemain-pemain yang diperebutkan di bursa transfer bisa dibagi jadi empat kategori.

Pertama mereka yang bermain bagus dan memiliki nama besar atau sudah tenar. Kedua, mereka yang bermain bagus, memiliki potensi untuk menjadi pemain besar tapi membela kesebelasan papan tengah ke bawah. Ketiga, para pemain muda dengan potensi besar alias ‘wonderkid’. Terakhir pemain dengan nama besar atau potensial yang terdegradasi di akhir musim.

Misalnya di Premier League, Sadio Mane diincar Barcelona dan Real Madrid. Diego Jota dan Ruben Neves mulai digoda untuk meninggalkan Wolverhampton. Callum Hudson-Odoi jadi incaran Bayern Munchen, Liverpool, dan Manchester United. Sementara pemain Fulham, Ryan Sessegnon diincar oleh Juventus, Borussia Dortmund, dan Tottenham.

Tentu masih nama lain yang bisa dijadikan contoh. Namun terkadang tidak semua seperti itu. Buktinya, suporter Wolves menolak kabar yang mengaitkan kesebelasan kesayangan mereka dengan gelandang Huddersfield Town, Aaron Mooy.

The Terries terdegradasi dari Premier League sebagai juru kunci. Bukan berarti tidak ada pemain mereka yang layak untuk tetap bermain di divisi tertinggi sepakbola Inggris, Mooy adalah salah satunya. Ia selalu menjadi andalan di lini tengah the Terriers sejak didaratkan dari Manchester City pada musim panas 2016.

Mantan pemain akademi Bolton Wanderers itu adalah pahlawan yang membawa Terriers promosi ke Premier League sebagai juara playoff Championship 2016/2017. Selama tiga musim di  John Smith’s Stadium, Mooy hanya terlibat dalam 26 gol dari 118 pertandingan. Tak begitu menonjol secara statistik, tapi pengaruhnya besar bagi the Terriers.

“Dia tidak banyak bicara, tapi permainannya membuat Mooy jadi pemimpin kami di atas lapangan,” aku penjaga gawang Huddersfield Jonas Lossl. “Mooy merupakan pemain kelas dunia. Sangat jarang Anda bisa menemukan pemain dengan visi, teknik, dan kemampuan pengambilan keputusan seperti dirinya,” puji mantan manajer Huddersfield, David Wagner.

Tentu ada alasan tertentu Mooy diboyong Manchester City dari klub satelit mereka di Melbourne. Pasalnya, hingga 8 Mei 2019, hanya ada empat pemain yang didaratkan the Citizens dari enam klub satelit mereka: Jack Harrison (New York), Florian Lejeune (Girona), Daniel Arzani, dan Mooy (Melbourne).

Melihat hal ini jelas Mooy punya potensi untuk menjadi pemain besar. Sama seperti Arzani dipantau oleh Juventus. Lejeune yang diincar Sevilla. Ataupun ‘anak emas Inggris‘, Jack Harrison. Lalu mengapa suporter Wolves menolak Mooy?

Jawabannya sederhana, mereka sudah merasa naik kelas. Bukan lagi kesebelasan papan tengah ke bawah. Bukan lagi ‘tim yo-yo’. Tapi salah satu kandidat untuk mewakili Inggris dalam kompetisi antar klub Eropa.

Efek Uang Fosun

Foto: The Top Flight

Mengakhiri musim 2018/2019 sebagai peringkat tujuh di klasemen akhir Premier League, Wolves adalah kuda hitam. Namun mereka bukan kuda hitam biasa seperti Swansea City ataupun Portsmouth. Sejak dikuasai oleh Fosun Internasional pada 2016/2017, klub yang merupakan salah satu raksasa sepakbola Inggris di era 1950-an begelimang harta.

Fosun baru menguasai klub selama tiga musim, tapi Wolves sudah tujuh kali memecahkan rekor transfer. Sebelumnya rekor pembelian mereka dimiliki oleh Roger Johnson. Diboyong dari Birmingham City dengan dana delapan juta euro.

Fosun datang, rekor itu dipecahkan oleh Ivan Cavailero. Hanya bertahan enam bulan, rekor dipecahkan lagi oleh Helder Costa. Rekor Costa juga hanya bertahan enam bulan sebelum dipecahkan Ruben Neves. Kemudian Rui Patricio, Adama Traore, Jonny, hingga akhirnya Raul Jimenez ditebus dengan dana 38 juta euro dari Benfica.

Mereka semua bukan nama sembarangan. Selain Traore, semuanya adalah pemain tim nasional negara masing-masing. Traore juga pernah diincar oleh Chelsea ketika masih membela Middlesbrough. Bukan nama sembarangan.

Ini sesuai dengan ambisi Fosun selaku pemilik klub. “Kami ingin menjadi anggota enam besar, mewakili Inggris di kancah Eropa, dan menjuarai Premier League,” ungkap Kevin Thelwell dan Laurie Dalrymple selaku anggota direktur Wolves.

Foto: Sportingpedia

Suporter Wolves menganggap Mooy tidak masuk dalam kategori tersebut. Padahal kapten mereka saat ini, Conor Coady, adalah mantan gelandang yang kurang berkembang ketika masih membela Liverpool.

Kariernya baru mulai kembali terbentuk bersama Huddersfield. Manajer Wolves Nuno Espirito Santo mentransformasi Coady menjadi bek kokoh dan idola para penghuni tribun  Molineux. Aaron Mooy punya cerita yang sama dengan Coady. Tak berkembang bersama Bolton, dibuang Manchester City, membentuk kembali kariernya bersama Huddersfield.

Satu-satunya alasan yang membuat Mooy ditolak adalah ambisi tinggi. Seakan membuat para suporter Wolves lupa daratan. Sekarang standard mereka adalah Nicolas Otamendi, Andre Silva, dan Victor Lindelof. Mooy? Meh..