OUR NETWORK

Chelsea Bisa Kehilangan Genarasi Emas Jika Keras Kepala

Memiliki status ‘wonderkid‘ memang bukan jaminan sukses. Hal itu dapat dilihat dari karier berbagai pemain dari Cherno Samba hingga Freddy Adu. Terlalu bertumpu kepada pemain muda juga tidak baik. Lihat saja bagaimana AS Monaco tercecer di papan bawah Ligue 1 karena memperlakukan bursa transfer seperti permainan ‘Football Manager‘.

Tapi, masalah utama para pemain-pemain yang gagal memenuhi ekspektasi mereka biasanya bukan karena tidak mampu. Melainkan karena potensi dan talenta mereka dieksploitasi oleh pihak klub. Belum siap tapi sudah dipaksa menerima beban berat.

Ketika pemain-pemain itu siap mengemban ekspektasi yang ada, mereka terbukti bisa memenuhi potensinya. Lihat saja Jadon Sancho di Borrusia Dortmund, atau lebih parah lagi, ‘Class of 92’ milik Manchester United. Bukan hanya satu atau dua pemain, tapi ‘satu angkatan’ berhasil menjadi tulang punggung the Red Devils.

Salah satu alumni dari angkatan tersebut, David Beckham, membeberkan rahasia sukses mereka kepada Telegraph. “Sir Alex Ferguson selalu mengingatkan kami tentang kondisi tubuh. Ia memberikan kami edukasi untuk menghargai sepakbola dengan menjaga tubuh dan melakukan apa yang kami suka,” kata Beckham.

Meskipun matan pemain Manchester United lainnya, Mads Timm mengatakan sikap Fergie -sapaan Sir Alex- kepada Beckham dan kawan-kawan seperti atasan kepada budak, hal itu tidak menghalangi Becks, Giggs, Scholes, dan lainnya untuk meraih kesuksesan.

Ferguson sendiri mengakui bahwa ‘Class of 92’ adalah kunci kesuksesannya di Manchester. “Tidak diragukan lagi bahwa para pemain itulah yang membentuk kultur Manchester United saat ini. Mereka membawa klub seperti era Sir Matt Busby lagi,” aku Ferguson.

Sebenarnya, Manchester United bukanlah satu-satunya kesebelasan yang memiliki generasi emas. Beberapa kesebelasan Premier League lainnya seperti Chelsea juga punya. Mulai dari Andreas Christensen, Lewis Baker, Bertrand Traore, Nathan Ake, Charly Musonda Jr, Ruben Loftus-Cheek, Tammy Abraham, hingga Callum Hudson-Odoi, semua dari akademi Chelsea. Sayangnya, the Blues kurang memperhatikan pemain-pemain tersebut.

Dari delapan pemain di atas, hanya tiga di antara mereka masuk ke dalam skuad Chelsea pada musim 2018/19: Hudson-Odoi, Loftus-Cheek, dan Andreas Christensen. Sisanya ada di klub lain sebagai pemain pinjaman seperti Tammy Abraham, ataupun pindah permanen layaknya Nathan Ake.

Padahal selain Ake, semua pemain tersebut masih berusia 23 tahun ke bawah, Hudson-Odoi yang paling muda (18) menjadi buah bibir karena menarik minat Bayern Munchen.

Melihat fenomena ini, mantan bek Chelsea, Mario Melchiot meminta the Blues untuk lebih fokus kepada pemain muda. “Kita tidak bisa menyerahkan semua pada klub. Pemain dan para pengambil keputusan harus duduk bersama, membicarakan ini. Apakah Loftus-Cheek dan pemain-pemain lain harus didorong atau tidak,” kata Melchiot.

Ia juga menceritakan pengalamannya di Ajax Amsterdam bersama Louis van Gaal. “van Gaal baru membeli bek kanan termahal dalam sejarah Eredivisie dengan Marcio Santos. Namun, ia mengajak saya ke tim utama,” buka Melchiot.

“Ia kemudian mengajak saya bicara, ‘Ajax baru mendatangkan Santos yang memenangkan Piala Dunia bersama Brasil. Tapi apakah Anda mau menjadi bek kanan utama Ajax?’, tanya dia. Tentu ada beban, tapi itu juga mengangkat kepercayaan diri saya. Beruntung, Michael Reiziger hengkang dan persaingan di sisi kanan pun terbuka,” ceritanya.

Setelah tiga tahun membela Ajax, Melchiot didaratkan Chelsea. Ia tampil sebanyak 159 kali untuk the Blues dalam waktu lima tahun. Hingga gantung sepatu, Chelsea jadi kesebelasan yang paling sering dibela Melchiot. Memenangkan Piala FA serta tampil di Liga Champions dan UEFA Cup. Sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi andai van Gaal tidak memberikan kepercayaan di Ajax.

Chelsea sudah terlalu banyak membuang talenta. Meminjamkan mereka ke Vitesse atau Reading, tidak memberi kesempatan di tim utama. Padahal talenta seperti Nathan Ake dan Bertrand Traore tergolong layak main bersama Eden Hazard. Dengan penampilan Hudson-Odoi, dan Loftus-Cheek yang menarik perhatian, besar peluang mereka untuk kehilangan keduanya.

Banyak Talenta di Gudang

Foto: Complete Sports Nigeria

Pemain-pemain muda ini siap untuk membela tim utama dan mendapatkan jam terbang yang lebih banyak. Tidak seperti Freddy Adu yang sudah dilabel ‘Pele dari Amerika Serikat’ sebelum memperlihatkan kemampuannya menghadapi tekanan. Dalam uji coba tertutup antara tim senior melawan Chelsea muda saja, Willian dan kawan-kawan bisa ditahan 3-3.

Mereka siap dan jika Chelsea masih ragu untuk memberikan kesempatan. Lebih memilih mengajukan banding terkait embargo transfer ketimbang menggunakan opsi yang sudah ada, memang lebih baik pemain-pemain tersebut pergi dari London.

Berkat kesuksesan Sancho di Jerman, pemain-pemain muda dari kesebelasan Inggris kini memiliki pasar yang lebih luas. Football.London bahkan telah menyiapkan daftar pemain muda yang bisa diambil kesebelasan 1.Bundesliga dari Chelsea.

Bukan Hudson-Odoi atau Loftus-Cheek. Tapi pemain-pemain yang masih ada di U18 hingga U23 seperti Nicolas Tie dan Daishawn Redan. Memang banyak talenta dari Chelsea, mereka bisa membentuk generasi emas seperti Manchester United sebenarnya jika berani. Masalah utamanya adalah keberanian. Mereka bahkan pernah kehilangan seorang Thorgan Hazard karena selalu memberikan label ‘adik Eden’ kepada gelandang Belgia itu.

“Sangat sulit untuk bertahan di Chelsea. Saya hanya dikenal sebagai adik Eden dan akan dipinjamkan ke kesebelasan lain. Saya ingin membuat jalan sendiri,” kata Thorgan Hazard ketika menjelaskan alasannya pergi dari Stamford Bridge.

Untungnya, menurut Evening Standard keberanian itu sudah mulai terlihat. Chelsea disebut siap memberikan tempat di tim senior untuk Reece James setelah tampil impresif selama ‘sekolah’ di Wigan. Semoga Ola Aina (Torino) dan Tammy Abraham (Aston Villa) yang juga mengesankan selama masa pinjaman juga diberi tempat. Jika keras kepala, Chelsea akan kehilangan generasi emas.

Loading...