OUR NETWORK

Awal yang Buruk Tidak Membuat Lampard Butuh Zaha

Kegagalan Wilfried Zaha hengkang dari Crystal Palace pada musim panas 2019 membuat masa depan pemain asal Pantai Gading itu abu-abu. Menurut laporan yang beredar, Crystal Palace menolak tawaran 100 juta Pauns dari Everton untuk mempertahankan jasa Zaha di Selhurst Park. Keputusan itu kemudian dibalas Zaha dengan meminta dirinya segera dijual jika ada tawaran lain yang masuk.

Untuk sementara, Zaha masih berstatus pemain Crystal Palace. Namun belum tentu dirinya akan tetap membela the Eagles hingga musim 2019/2020 berakhir. Meski dua kesebelasan yang menjadi peminat Zaha di musim panas 2019 (Everton, Arsenal) sudah mendapatkan sosok pengganti, jasa mantan pemain Manchester United tersebut masih berada di dalam radar Chelsea.

Metro melaporkan bahwa the Blues telah mempersiapkan dana 80 juta Pauns untuk Zaha. Ini memperkuat laporan Kevin Day di Talk Sport pada awal Agustus 2019. Menurut Day, Crystal Palace dan Chelsea telah mencapai kesepakatan dasar untuk transfer Zaha. Tapi, hal tersebut ditunda karena Chelsea dilarang untuk berbelanja pemain selama 2019/2020.

“Hal ini terjadi di akhir Bulan Juli (2019), seperti ada sebuah kesepakatan balik layar antara Crystal Palace dan Chelsea. Mungkin Michy Batshuayi juga akan dilibatkan dalam kesepakatan tersebut. Entah ini akan terjadi di pertengahan musim ataupun menjelang 2020/2021,” jelas Day.

Sebenarnya, tidak ada tempat yang lebih baik untuk Zaha ketimbang Crystal Palace. Tapi, Chelsea juga sesuai dengan persyaratan yang diberikan the Eagles kepada Zaha. Mereka hanya ingin melepas pemain andalannya ke kesebelasan peserta Liga Champions. Bukan Arsenal atau Everton.

Menjuarai Liga Europa 2018/2019, the Blues merupakan salah satu wakil Inggris di Liga Champions. Mereka pun seperti gatal ingin segera membeli pemain. Dari saat Maurizio Sarri belum digantikan Frank Lampard, Chelsea terus berusaha untuk mendapatkan hak berbelanja di 2019/2020. Usaha itu kemudian terbayar.

Mereka diizinkan membeli pemain-pemain muda untuk tim akademi. Tapi, keringanan tersebut dirasa belum cukup. The Blues ingin mendapat hak berbelanja pemain senior di Januari 2020. Apabila permintaan itu dikabulkan, Zaha disebut jadi incaran utama mereka.

Pro-Kontra Belanja Pemain

Foto: RTE

Lampard sebenarnya merasa bahwa Chelsea tidak membutuhkan tambahan pemain. “Tim ini sudah diisi pemain-pemain berkualitas dan saya sangat bersemangat untuk memberikan kesuksesan pada klub. Saya sangat mengenal klub ini. Saya mengenal pemain-pemainnya. Saya juga tahu harus bagaimana kepada mereka,” kata Lampard.

“Orang-orang tahu bahwa saya memiliki mata untuk talenta muda. Akademi Chelsea telah memiliki banyak pemain yang siap menembus tim utama. Saya tak peduli usia. Andaikan mereka memiliki kualitas dan bisa bermain dengan baik, pasti akan mendapatkan tempat”.

“Saya ingin Chelsea menjadi tim yang penuh energi dan gesit. Dengan ataupun tanpa bola. Apabila kita bisa menggerakkan bola ketika menyerang akan semakin banyak peluang yang tercipta. Semakin besar juga peluang meraih menang. Hal itu akan membuat para pemain menikmati sepakbola,” jelas Lampard.

Namun dengan hasil minor melawan Manchester United dan Liverpool, pembelian pemain sepertinya lebih menjadi opsi yang masuk akal bagi pihak klub ataupun suporter. Beberapa suporter Chelsea bahkan terlihat seperti kebakaran jenggot.

Ada yang meminta Lampard untuk segera dipecat hanya karena kalah di uji coba. Ada pula yang menyerang Tammy Abraham dengan hinaan berbau ras karena penyerang Inggris itu gagal mengeksekusi penalti di UEFA Super Cup. Lupa bahwa Abraham juga yang memaksa Adrian melakukan pelanggaran di kotak penalti pada babak tambahan waktu.

Meraih hasil imbang kontra Leicester di pekan kedua Premier League 2019/2020 membuat Lampard menjadi manajer pertama Chelsea yang gagal meraih kemenangan di tiga partai pertamanya sejak Rafael Benitez di 2012/2013. Tekanan semakin besar.

Bermain Sesuai Janji

Foto: Football.London

Membeli pemain baru seperti Zaha akan menjadi sebuah jalan pintas. Belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya akan memberikan hiburan sesaat untuk suporter Chelsea. Kesebelasan kesayangan mereka yang terkenal sering berfoya-foya akhirnya bisa membeli pemain lagi.

Namun, Lampard baru memulai perjalanan sebagai manajer Chelsea. Penujukkan dirinya sebagai pengganti Sarri memang terlalu cepat. Mungkin sosok seperti Javi Gracia dapat menjadi pengganti yang lebih pas. Sayangnya, nasi sudah jadi bubur. Untungnya, bubur juga enak. Meskipun dibantai Manchester United di pertandingan pertama Premier League 2019/2020, Lampard menepati janjinya.

Chelsea main dengan penuh energi dan gesit. Meski Mason Mount dan Ross Barkley sempat terlihat berebut posisi dan membiarkan Aaron Wan-Bissaka leluasa mengeksploitasi sisi kiri pertahanan, Chelsea tidak seburuk yang ditunjukkan papan skor. Tendangan Emerson dan Abraham bahkan sempat membentur mistar gawang David De Gea.

Sementara itu, Manchester United lebih mengandalkan serangan balik untuk membobol gawang Chelsea. Serangan balik yang efektif. Bukan berarti Chelsea tidak berdaya di Old Trafford. Lengah.

Waktu bertemu Liverpool di UEFA Super Cup, kesalahan yang sama tidak lagi terjadi. Salto Sadio Mane bisa dihalau Andreas Christensen. Serangan balik Liverpool yang diakhiri oleh Mohamed Salah berhasil ditutup oleh Kepa dan Emerson. Hanya dalam waktu empat hari, mereka sudah bisa memperbaiki diri.

Atmosfer Positif di Stamford Bridge

Para pemain pun menikmati era Lampard. “Lampard adalah seorang legenda sejati. Dirinya selalu memikirkan cara untuk meraih kemenangan. Kami semua percaya bahwa tim ini bisa berbuat banyak meski dijatuhi sanksi embargo transfer. Ini adalah kesempatan untuk para pemain-pemain muda membuktikan diri mereka,” kata Giroud.

“Lampard menumbuhkan rasa percaya diri kepada pemain-pemain muda termasuk saya. Ini adalah kesempatan terbaik bagi kami karena klub tidak bisa mendatangkan pemain baru. Saya sudah melihat tim yang dibangun Lampard di Championship. Saya bertemu dengan mereka di final playoff dan tidak ada sosok yang lebih tepat untuk menangani Chelsea dibandingkan dirinya,” aku Abraham.

Bahkan Jorginho yang datang ke Stamford Bridge sebagai anak emas Sarri, juga ikut merasakan dampak positif Lampard kepada tim. “Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Saya belajar dari Lampard dan itu adalah hal bagus. Bagus untuk perkembangan karier saya di masa depan,” aku Jorginho.

“Saya berterimakasih kepada Sarri atas apa yang telah diberikannya selama empat tahun bekerja sama. Akan tetapi saya tidak sedih dia pergi,” lanjutnya. “Saya tak ingiin dikenal sebagai Jorginho yang main untuk Sarri. Saya adalah Jorginho, pemain Chelsea,” tambah gelandang asal Brasil tersebut.

***

Melihat kondisi Chelsea di awal era Lampard, mereka tidak membutuhkan Zaha di dalam tim. Lagipula, sudah ada Pedro, Willian, dan Christian Pulisic yang dapat mengisi sayap kanan Chelsea. Zaha hanya akan membuat sesak.

Satu-satunya hal yang perlu dilakukan oleh manajemen dan suporter Chelsea hanyalah bersabar. Memberi Lampard waktu dan kesempatan untuk mengembangkan the Blues sesuai dengan visinya.

 

Loading...