OUR NETWORK

Edin Dzeko Bukan Jaminan untuk AS Roma

Sekalipun Dzeko jadi kapten, nasib AS Roma belum tentu berubah.

Edin Dzeko hampir menjadi kapten AS Roma. Ditinggal Daniele De Rossi dan Francesco Totti, Giallorossi hampir memiliki kapten yang bukan berasal akademi mereka. Padahal, mengenal AS Roma luar dan dalam merupakan salah satu syarat utama untuk memimpin kesebelasan tersebut.

“Punya jiwa Roma merupakan hal penting agar bisa memimpin klub ini. Bagi rasa, Lorenzo Pellegrini dan Alessandro Florenzi bisa menunjukkan sikap tersebut,” kata De Rossi setelah melepaskan jabatan tersebut di akhir musim 2018/2019.

Florenzi pada akhirnya dipilih sebagai penerus De Rossi. Meski ada nama lain seperti Bryan Cristante, Roma tetap mempertahankan tradisi mereka. Tradisi yang hampir ditanggalkan oleh Florenzi setelah Dzeko memperpanjang kontraknya di Stadio Olimpico. Mendatangani kontrak hingga 2022, penyerang Bosnia-Herzegovina itu mengaku ditawari jabatan kapten oleh Florenzi.

“Pellegrini dan Florenzi selalu mengingatkan saya untuk bertahan di Roma. Memperpanjang kontrak di sini. Florenzi bahkan berjanji akan memberikan ban kapten miliknya pada saya jika saya memastikan diri bertahan di Roma,” aku Dzeko.

“Sangat senang rasanya melihat kehadiran saya diharapkan orang-orang sekitar. Kami di Roma lebih dari rekan satu tim. Kami adalah teman, saudara,” lanjutnya. “Setelah resmi memperpanjang kontrak, Florenzi kemudian mendatangi saya. Menepati janjinya dengan memberikan ban kapten. Namun, Ale [Florenzi] merupakan kapten kami. Semuanya akan mendukung dia, termasuk saya,” jelas Dzeko.

Andalan AS Roma

‘Pengorbanan’ Florenzi mempertaruhkan jabatan kapten sekaligus tradisi Roma agar Dzeko tetap bertahan merupakan bukti dari pengaruh mantan penyerang VfL Wolfsburg tersebut di Olimpico. Kontrak Dzeko sebelumnya akan habis di musim panas 2020. Inter dikabarkan gencar mengincar jasanya. Tapi ruang ganti AS Roma merasa masih membutuhkan Dzeko. Begitu juga dengan nakhoda klub, Paulo Fonseca.

“Dzeko adalah pemain kami. Dirinya juga selalu fokus bersama kami. Saya tidak melihat peluang dirinya akan pergi dari sini. Dengan kehadiran Dzeko dan Patrick Schick di depan, kami bisa fokus membenahi lini belakang,” kata Fonseca.

Dzeko memang sudah dipastikan bertahan di Olimpico. Walaupun sudah tidak muda lagi, pengorbanan Florenzi bisa memperlihatkan bagaimana dirinya diandalkan dan dipercaya oleh Roma. Fonseca juga merasa demikian. Bahkan ia terlihat rela melepas jasa Schick setelah Dzeko resmi memperpanjang kontrak dengan Giallorossi.

Fiorentina, Atalanta, dan Sampdoria kabarnya siap menampung jasa Schick. Opsi Fonseca lainnya di lini depan, Grégoire Defrel juga disebut akan segera dilepas ke Cagliari. Sebagai gantinya, Roma mengincar Fernando Llorente atau Mariano Diaz.

Roma Mencari Pelapis Dzeko

Masa depan Diaz di Real Madrid memanglah suram. Dirinya pergi meninggalkan Ibu kota Spanyol atas saran Zinedine Zidane. Hengkang ke Olympique Lyon, dirinya pun bersinar dengan mencetak 21 gol dan mengarsiteki enam lainnya dari 48 penampilan. Performa itu berhasil memberikannya jalan pulang ke Santiago Bernabeu. Dirinya bahkan mendapatkan kepercayaan untuk jadi ahli waris waris nomor tujuh Real Madrid.

Tapi nasibnya tidak berubah. Diaz tetap hanya dipercaya sebagai pelapis Karim Benzema. Bukan pilihan utama. Zidane kemudian kembali ke Bernabeu, dan lagi-lagi Diaz menjadi korban. Nomor punggung tujuh yang ia miliki dioper ke Eden Hazard. Persaingan di posisi penyerang jadi semakin sesak dengan kehadiran Luka Jovic. Sekalipun dirinya tidak mau meninggalkan Real Madrid (lagi), Zidane sudah siap melepas jasanya.

Andai Diaz pindah ke Roma, dirinya juga akan tetap duduk di bangku cadangan sebagai pelapis Dzeko. Hal ini membuat Llorente jadi pilihan paling masuk akal bagi Giallorossi.

Llorente sudah memperlihatkan kemampuannya bersama Tottenham. Meski tak selalu bermain, dia dapat membayar kepercayaan saat diberi kesempatan mengisi pos Harry Kane. Llorente tersedia secara cuma-cuma untuk Roma dan agennya mengaku bahwa mantan penyerang Juventus tersebut tertarik untuk kembali ke Italia.

Ketergantungan Alasan Roma Turun

Foto: RadioRadio

Akan tetapi, siapapun penyerang yang datang ke Olimpico, nasib Roma tidak akan banyak berubah apabila mereka masih mengandalkan Dzeko sebagai juru gedor. Dalam beberapa musim terakhir, Dzeko memang selalu menjadi juru gedor andalan Roma. Sejak mendarat dari Manchester City, dirinya selalu terlibat dalam 10 gol atau lebih bagi Giallorossi. Bahkan jadi capocannoniere Serie-A 2016/2017 dengan 26 gol.

Performa Dzeko sejak itu selalu menurun. Pada 2017/2018, ia gagal memberi 20 gol untuk AS Roma di Serie-A. Hanya mencetak 16. Pada 2018/2019, dirinya hanya dapat membobol gawang lawan sembilan kali di divisi tertinggi sepakbola Italia. Tak lagi jadi pemain paling subur yang dimiliki Giallorossi.

Musim itu, Roma keluar dari lima besar Serie-A dan menduduki peringkat enam. Padahal mereka selalu jadi pesaing Juventus sejak 2013/2014. Tapi perlahan, predikat itu pindah menjadi milik Napoli. Alasannya sederhana, Napoli tidak mengandalkan satu orang untuk jadi pencetak gol mereka.

Mereka punya Lorenzo Insigne-Gonzalo Higuain (2015/2016), Higuain pergi Dries Mertens muncul di 2017. Sekalipun Mertens menurun, ada Jose Callejon dan Arkadiusz Milik yang bisa menyumbang gol untuk Napoli. Sementara Roma bergantung ke Dzeko.

Pelajaran dari Peserta Serie-A Lainnya

Foto: Corriere dello Sport

Ketergantungan tersebut membuat mereka kerap mengalami kebuntuan ketika Dzeko mati langkah atau mengalami penurunan performa. Hal serupa juga terlihat di Inter Milan yang terlalu mengandalkan Mauro Icardi, atau AC Milan dengan Carlos Bacca. Kedua tim Milan itu bahkan sudah mulai melakukan perubahan. Icardi mau dibuang Conte. Sementara AC Milan mulai menerapkan formasi dengan dua penyerang.

Atalanta bisa jadi contoh yang pas untuk Roma. La Dea mulai mendapatkan momentum untuk menjadi wakil Italia di kompetisi antar klub Eropa pada 2016/2017. Meninggalkan papan tengah dan duduk di empat besar. Alejandro ‘Papu’ Gomez menjadi andalan mereka di 2016/2017. Namun di 2017/2018, mereka sadar bahwa Papu seorang tidak bisa selalu tampil prima. Akhirnya di 2018/2019 datang Duvan Zapata yang melengkapi lini serang La Dea bersama Papu dan Josip Ilicic.

Saat Roma jadi pesaing utama Juventus, ada Mohamed Salah untuk meringankan tugas Dzeko. Sebelumnya, Mattia Destro ditemani Francesco Totti dan Gervinho. Dzeko butuh dukungan seperti saat masih bermain bersama Salah. Jika Cengiz Ünder, Justin Kluivert, Diego Perotti, atau Nicolò Zaniolo tidak bisa menjalankan tugas tersebut, percuma saja kontrak Dzeko diperpanjang oleh Roma. Nasib mereka akan tetap sama.

Loading...